Postingan

Uma Lengge: Menjaga Ketahanan Pangan Masyarakat Bima

Gambar
Menuju Situs Uma Lengge di Desa Maria Tanggal 27 Juli lalu, menjelang shalat Ashar, saya bersama teman-teman dari RS PKU Muhammadiyah Bima menuju Desa Maria Kecamatan Wawo. Titik keberangkatan kami adalah Jalan Gajah Mada, di pusat kota Bima. Dengan mengendarai mobil, kami berangkat ke arah timur.
Perjalanan menuju Kecamatan Wawo melewati beberapa jalan yang cukup menanjak dan berkelok. Perlu kehati-hatian ketika berkendara di jalanan Bima. Meskipun jalanan sepi, tidak menutup kemungkinan kita akan berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan yang ugal-ugalan dan tidak mematuhi marka jalan. Setelah 45 menit, sampailah kami di Desa Maria, Kecamatan Wawo. Tidak ada papan penunjuk yang mengarahkan ke situs budaya ini. Pengunjung harus jeli melihat sebuah spanduk kecil yang terpasang di pinggir jalan menuju Desa Maria.
Situs Uma Lengge berada di antara permukiman warga. Karena berada di wilayah perbukitan, udara segar menyapa kami walaupun cuaca di Bima sedang panas-panasnya. Di sana…

Mengapa Via Vallen Digemari? : Sebuah Amatan tentang Via Vallen

Gambar
“Sayang opo kowe kerungu, jerite atiku, mengharap engkau kembali..?”
Intro musik tersebut terus terngiang di telinga saya. Pertama kali saya mendengar penggalan lirik lagu ini dari sebuah status yang viral di media sosial. Adalah Maulidia Octavia atau yang lebih dikenal dengan Via Vallen, biduan dangdut asal Surabaya yang mempopulerkan lagu tersebut bersama Orkes Melayu (OM) Sera. 

Via Vallen cukup dikenal di kalangan dangdut koplo Pantura. Namanya kian terkenal ketika sering diundang untuk tampil di beberapa acara musik yang rutin tayang di stasiun televisi. Terlebih ketika ia berhasil meraih Penghargaan Penyanyi Dangdut Wanita Ngetop versi SCTV Awards 2017, mengalahkan beberapa pendahulu lainnya di bidang dangdut kekinian, seperti Ayu Tingting, Cita Citata, dan Zaskia Gothik.
Dangdut adalah salah satu genre musik populer yang terkenal di Indonesia pasca runtuhnya pemerintahan Soekarno. Musik ini merupakan akulturasi dari beberapa budaya. Musik dangdut mencampurkan lirik Indonesia denga…

Istana tanpa Singgasana di Asi Mbojo

Gambar
Cara termudah untuk belajar sejarah ketika berkunjung ke suatu daerah adalah mengunjungi museum. Satu pekan di Bima, Pak Imran, manajer area program kami memilihkan Hotel Lambitu yang tepat berada di tengah kota untuk kami menginap. Lima menit berjalan kaki, saya bisa setiap hari belajar di Museum Kesultanan Bima ‘Asi Mbojo’.
Dalam bahasa Bima, ‘Asi’ berarti istana dan ‘Mbojo’ adalah suku bangsa Bima. Kosakata yang mirip dengan kosakata di Jawa, yaitu ‘bojo’ atau istri. Konon, salah satu pendiri Kerajaan Bima berasal dari tanah Jawa dan beristrikan orang Bima sehingga kosakata Mbojo dilekatkan pada istrinya yang berada di tanah ini.
Kesultanan Bima mendapat pengaruh Islam pada abad ke-16. Ketika itu, Bima dipimpin oleh Sultan Abdul Khair. Akan tetapi, baru pada Sultan Abdul Khair Sirajuddin atau Sultan Bima yang ke-2 lah syariat Islam diberlakukan. Hingga saat ini, nuansa Islami masih sangat terasa di kota Bima.
Saksi Sejarah Perkembangan Kota Museum Asi Mbojo berlokasi di pusat kota Bim…

Doaku Malam Ini

Gambar
Doa saya malam ini untuk para isteri yang tulus menjaga suaminya di ruang ICU.
Dengan berbagai doa dan ayat-ayat suci yang dilantunkan selalu, walaupun suara tidak merdu.
Untuk anak-anak yang tengah menanti kesembuhan ayahandanya di rumah sakit.
Pada sendu di matamu yang kamu sembunyikan lewat senyum palsu.
Untuk seluruh anggota keluarga yang setia bergantian menjaga seorang anggota keluarganya yang tak kunjung sadar di ruang ICU.
Semoga Allah mengangkat segala penyakitnya, memberikan kesembuhan, dan senantiasa menjadikan ini sebagai pelajara.

Wa-idza maridtu, fahuwa yasyfin. Dan ketika aku sakit, Dialah yang akan mengobati. QS. Ash-Shu'ara ayat 80.

Untuk Bu Misbah

Gambar
“Mbak, Bude Misbah meninggal.”
Begitu pesan singkat yang dikirimkan Uus, adik kos saya di kos Muti'ah dulu, pagi tadi. Dalam sejarah perdomisilian saya di Jogja, Kos Muti'ah adalah rumah kos pertama saya dan termasuk salah dua yang saya diami dalam waktu lama, setelah kos Nikola.
Kos ini punya cerita yang baik, seperti almarhum Bu Misbah yang juga punya kenangan baik pada saya, pada kami, penghuni rumah beliau.
Kos kami adalah sebuah kos Muslimah. Di tahun 2008, kalau ada sebutan kos Muslimah, tentu yang tinggal di sana adalah perempuan-perempuan Muslim dan tentu saja berjilbab. Bisa dihitung dengan satu tangan, berapa jumlah anak kos Muti'ah yang tidak berjilbab kala itu. Beberapa bahkan ada yang memutuskan berjilbab setelah tinggal di sana. Begitulah, Jogja dan kos-kosan menjadi tempat belajar yang baik.
Sebagai induk semang, Bu Misbah menjaga amanah orang tua kami dengan sebaik-baiknya. Kos kami tidak membolehkan lelaki masuk, kecuali 2 orang: Pak Misbah dan tukang galon lan…

Perempuan-Perempuan Penjaga Tradisi Tenun Baduy

Gambar
Seorang perempuan separo baya duduk tenang di depan alat penenun. Khusyuk ia mulai memintal benang-benang berwarna merah yang dikombinasikan dengan warna biru. Benang-benang tersebut mulai membentuk sebuah kain panjang dengan motif segi empat. Di rumah seberang, seorang perempuan lainnya dengan usia lebih muda melakukan hal yang sama.

Ketika mengunjungi kampung Baduy Luar di Desa Kanekes, beranda rumah yang diisi dengan aktivitas perempuan sedang menenun menjadi pemandangan di sepanjang perjalanan. Perempuan suku Baduy menjaga tradisi membuat tenun untuk pakaian mereka. Hampir tiap rumah memiliki seperangkat alat menenun yang terbuat dari sebilah papan dan bambu.
Seperti halnya suku-suku lain dalam khazanah keragaman seni Nusantara, suku Baduy memiliki kain tenun khasnya sendiri. Kain tenun ini dibentuk dari pilinan benang. Kain tenun Baduy bermotif garis-garis geometris yang terinspirasi dari alam dengan bentuk garis lurus, segi empat, segi tiga, maupun bulatan. Jika selama ini kita m…

Catatan Perjalanan: Mengunjungi Kampung Baduy

Gambar
Menuju Titik Awal Perjalanan Lebaran tahun 2017 ini, saya dan keluarga memutuskan untuk merayakan Idul Fitri di Tangerang, bukan di Jepara, seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk mengisi jeda liburan yang cukup panjang, di hari ketiga Lebaran, kami berkunjung ke Desa Kanekes atau yang lebih dikenal dengan Desa Adat Baduy.  Sebelum berangkat, kami mempersiapkan banyak hal, terkait transportasi, akomodasi, dan kebutuhan logistik. Beberapa informasi sebelum berangkat ke Baduy saya dapatkan dari beberapa travel blogger yang sudah lebih dulu menjejakkan kakinya ke Desa Kanekes. Untuk transportasi, karena ini perjalanan keluarga, kami menggunakan mobil pribadi dengan ayah saya sebagai sopir andalannya.
Soal akomodasi, masing-masing anggota keluarga yang berjumlah enam orang membawa keperluan pribadinya menggunakan tas ransel. Hindari menggunakan tas slempang, apalagi koper. Perjalanan ini direncanakan selama satu hari satu malam. Saya menyiapkan tiga setel pakaian termasuk yang saya pakai di ha…